Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira memperkirakan tahun ini proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa turun menjadi 4,7-4,9 persen year on year (yoy). Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.
“Indikasinya penerimaan negara turun tajam pada Januari-Februari 2025 dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas ekspor yang anjlok. Padahal struktur ekonomi Indonesia ini rapuh, karena bergantung ke sektor ekstraktif. Begitu batubara dan nikel anjlok, selesai sudah sisi ekspornya,” tutur Bhima kepada inilah.com saat dihubungi di Jakarta, Selasa (18/3/2025).
Bhima mengakui daya beli masyarakat saat ini memang lesu. Belum lagi PHK di sektor padat karya terus terjadi.
“Pengangguran yang naik akan menekan konsumsi rumah tangga. Ada 9,9 juta anak muda kategori tidak bekerja, tidak sedang mengikuti pendidikan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ia menilai efisiensi brutal terhadap belanja pemerintah juga mulai dirasakan terhadap banyak sektor usaha di daerah yang menyusut. Sektor akomodasi perhotelan, jasa sewa transportasi, sampai vendor barang pemerintah bahkan melakukan PHK massal.
Hal ini juga turut berimbas pada penundaan pengangkatan CPNS, karena efisiensi belanja merugikan ekonomi sebesar Rp11,9 triliun. “Memang belanja pemerintah sumbangan ke PDB nya kecil, tapi efek berganda nya dirasakan ke sektor privat,” jelasnya.
Oleh karena itu, Bhima mengingatkan pemerintah, agar pertumbuhan ekonomi kedepannya jangan sampai berada di bawah 5 persen.
“Kalau dibawah 5 persen bukan stagnasi, bisa resesi ekonomi,” tandasnya.
Sebelumnya, Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat-Universitas Indonesia (LPEM-UI), Teuku Riefky meramalkan perekonomian nasional hanya tumbuh 5,1 persen. Atau di bawah target yang tersemat alam APBN 2025 sebesar 5,2 persen hingga 5,3 persen.
Turunnya daya beli, khususnya kelas menengah, penurunan produktivitas berbagai industri dan PHK. Menjadi masalah serius bagi perekonomian nasional pada tahun ini.
Terkait PHK, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat 77.965 orang pekerja yang terdampak PHK periode Januari-Desember 2024.
Angka itu meningkat 20,21 persen secara tahunan atau year on year/yoy, dibandingkan Januari-Desember 2023 sebanyak 64.855 orang.
Awal tahun, jumlahnya terus bertambah. Dimulai dengan dua perusahaan asal Jepang yakni PT Yamaha Music Indonesia dan PT Sanken Indonesia, memilih tutup. Dampaknya terjadi PHK lebih dari 2.400 pekerja.
Disusul dengan tutupnya raksasa tekstil PT Sri Rejeki Isman (SRIL) Tbk atau Sritex yang resmi tutup pada 1 Maret 2025. Atau bertepatan dengan 1 Ramadan 1446 Hijriyah
Source : https://www.inilah.com/ini-faktor-penyebab-kelamnya-perekonomian-indonesia